Resiko Yang Berhubungan Dengan Investasi
Dalam Aktiva Keuangan
Risiko Harga
Untuk
dapat mencapai tujuan investasi tertentu, manajer portofolio mungkin harus
menjual sekuritas. Sebagai misal, sebuah institusi keuangan memiliki portofolio
sekuritas dengan nilai pasar sebesar $10 miliar dan harus memenuhi kewajiban
sebesar $10 juta dua tahun lagi. Institusi keuangan tersebut menghadapi risiko,
yaitu pada saat dua tahun dari sekarang ia harus memenuhi kewajibannya dan
menjual sekuritas yang dimiliki, namun nilai sekuritas tersebut mungkin saja
dibawah $10 miliar. Risiko ini timbul karena tidak adanya kepastian mengenai
nilai pasar sekuritas dimasa depan.
Secara umum, investor menghadapi
risiko menurunnya nilai sekuritas (atau nilai suatu portofolio) dimasa depan.
Risiko ini disebut dengan risiko harga.
Risiko Kelalaian
Risiko kelalaian (default risk) / risiko kredit,
merupakan risiko dimana penerbit obligasi mungkin tidak dapat melakukan
pembayaran pokok dan bunga pada saatnya. Umumnya, risiko kredit diungkapkan
melalui pemberian peringkat oleh perusahaan pemberi peringkat komersial seperti
Moody’s Investor Service, Standard & Poor’s Corporation, Duff and Phelps
Credit Company, dan Fitch Investor Service. Reisiko kredit merupakan akibat dari dua jenis risiko; risiko usaha dan risiko keuangan. Risiko usaha merupakan risiko dimana arus kas penerbit obligasi tidak seimbang karena kondisi ekonomi yang tidak baik, sehinggga perusahaan mengalami kesulitan dalam memenuhi biaya operasionalnya (misal pembayaran gaji karyawan dan pemasok). Risiko keuangan merupakan risiko dimana arus kas penerbit obligasi tidak mencukupi untuk memenuhi kewajiban keuangannya (misal kewajiban pembayaran hutang dan bunga).
Risiko Inflasi
Anggaplah
seorang investor membeli instrumen hutang dengan maturitas satu tahun, nilai
maturitasnya sebesar $1.000 dengan suku bunga 7%. Arus kas obligasi ini satu
tahun dari sekarang adalah $1.070 . Dimisalkan lebih lanjut tingkat inflasi
selama satu tahun tersebut adalah 5%. Maka kemampuan membeli arus kas satu satu
tahun dari sekarang adalah $1.070 dibagi 1 ditambah tingkat inflasi. Dalam
contoh diatas menjadi $1.070 / (1,05) sama dengan $1.019. Oleh karena itu,
dalam nominal dolar (yaitu, dolar tidak disesuaikan dengan inflasi), realisasi
pengembalian adalah 7% namun dalam dolar sesungguhnya (setelah disesuaikan
dengan inflasi), pengembaliannya adalah sebesar 1,9%.
Risiko
inflasi atau risiko kemampuan beli adalah risiko dimana perubahan dalam
pengembalian yang sesungguhnya setelah disesuaikan dengan tingkat inflasi
adalah negatif. Dalam contoh diatas, hal ini akan terjadi jika tingkat inflasi
lebih besar dari 7%.
Risiko Nilai Tukar
Investor
AS yang membeli sekuritas dengan menggunakan mata uang asing tidak mengetahui
berapa besar arus kas yang terjadi dalam USD. Arus kas dalam USD tergantung
dari nilai tukar pada saat pembayaran diterima. Anggaplah, seorang investor
membeli obligasi yang pembayarnnya menggunakan mata uang yen. Jika yen
mengalami depresiasi relatif terhadap USD, maka USD yang diterima akan lebih
sedikit. Risiko perubahan nilai investasi disebabkan nilai tukar mata uang
asing disebut dengan risiko nilai tukar atau risiko mata uang. Jika yen
mengalami apresiasi relatif terhadap USD, maka investor akan mengalami
keuntungan dan menerima USD dalam jumlah yang lebih banyak.
Risiko Reinvestasi
Risiko investasi adalah
risiko dimana hasil yang diterima dimasa depan harus diinvestasikan kembali
dalam suku bunga yang lebih rendah. Sebagai contoh, sebuah institusi keuangan
mengharapkan akan menerima $10 miliar pada saat maturitas obligasi empat bulan
dari sekarang. Institusi keuangan tersebut berniat untuk menginsvestasikan
kembali $10 miliar yang dimilikinya kedalam obligasi lain. Risiko yang dihadapi
oleh instisusi keuangan ini adalah adanya penurunan suku bunga empat bulan
mendatang.
Perlu diperhatikan bahwa
bagi portofolio obligasi, risiko harga dan risiko reinsvestasi merupakan dua
risiko yang berlawanan. Sebagai misal, risiko harga adalah risiko dimana suku
bunga akan meningkat, sehingga mengurangi nilai portofolio obligasi. Sebalik\nya,
risiko reinsvestasi adalah risiko dimana suku bunga akan menurun yang
menyebabkan arus kas yang diterima harus diinvestasikan kembali pada suku bunga
yang lebih rendah.
Risiko Ditarik Kembali
Kebanyakan obligasi memiliki
ketentuan yang memungkinkan penerbit obligasi untuk menarik kembali seluruh
atau sebagian obligasi sebelum tanggal jatuh temponya. Penerbit obligasi
biasanya menahan hak ini agar dapat memiliki fleksibilitas untuk mendanai
kembali obligasinya dimasa depan jika suku bunga pasar menurun dibawah suku
bunga kupon.
Dari sudut pandang investor,
ada dua kerugian dari penarikan kembali ini. Pertama, pembayaran yang akan
diberikan kepada pemegang obligasi tidak diketahui dengan pasti jumlahnya.
Kedua, karena penerbit akan menarik kembali obligasinya jika suku bunga
menurun, maka investor akan menghadapi risiko investasi kembali, yaitu investor
harus menginsvestasikan hasil yang diperoleh pada saat obligasi ditarik kembali
pada tingkat suku bunga yang lebih rendah.
Risiko Likuiditas
Menurut Professor James
Tobin, likuiditas atau ketidaklikuiditasan dapat dilihat dari seberapa besar
penjual tersedia menerima kerugian jika mereka ingin menjual aktiva dengan
segera dibandingkan dengan biaya dan waktu yang harus dikeluarkan.
Contoh aktiva yang kurang
likuid adalah rumah yang besar dengan bentuk yang tidak lazim atau karya seni
seorang artis yang tidak dikenal. Untuk dapat menjual aktiva tersebut, pemilik
aktiva harus mencari seorang pembeli diantara sedikit calon pembeli yang
sesuai. Supaya calon pembeli tersebut mau membeli aktiva yang dijual, maka
penjual harus memberikan potongan harga.
Risiko likuiditas imbul dari adanya kesulitan untuk
menjual aktiva atau dapat dianggap sebagai perbedaan antara ‘nilai
sesungguhnya’ suatu aktiva dengan harga yang disetujui dikurangi komisi.
Sumber:
Manajemen
Investasi/Frank J. Fabozzi
Jakarta:
Salemba Empat, 1999
Xvii, 214
hlm.; 21 x 26 cm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar