Sabtu, 09 April 2016

PRINSIP PRINSIP PENGELOLAAN AKTIVA-KEWAJIBAN


Resiko Yang Berhubungan Dengan Investasi Dalam Aktiva Keuangan

               Risiko Harga

Untuk dapat mencapai tujuan investasi tertentu, manajer portofolio mungkin harus menjual sekuritas. Sebagai misal, sebuah institusi keuangan memiliki portofolio sekuritas dengan nilai pasar sebesar $10 miliar dan harus memenuhi kewajiban sebesar $10 juta dua tahun lagi. Institusi keuangan tersebut menghadapi risiko, yaitu pada saat dua tahun dari sekarang ia harus memenuhi kewajibannya dan menjual sekuritas yang dimiliki, namun nilai sekuritas tersebut mungkin saja dibawah $10 miliar. Risiko ini timbul karena tidak adanya kepastian mengenai nilai pasar sekuritas dimasa depan.

            Secara umum, investor menghadapi risiko menurunnya nilai sekuritas (atau nilai suatu portofolio) dimasa depan. Risiko ini disebut dengan risiko harga.


              Risiko Kelalaian
              Risiko kelalaian (default risk) / risiko kredit, merupakan risiko dimana penerbit obligasi mungkin tidak dapat melakukan pembayaran pokok dan bunga pada saatnya. Umumnya, risiko kredit diungkapkan melalui pemberian peringkat oleh perusahaan pemberi peringkat komersial seperti Moody’s Investor Service, Standard & Poor’s Corporation, Duff and Phelps Credit Company, dan Fitch Investor Service. 
              Reisiko kredit merupakan akibat dari dua jenis risiko; risiko usaha dan risiko keuangan. Risiko usaha merupakan risiko dimana arus kas penerbit obligasi tidak seimbang karena kondisi ekonomi yang tidak baik, sehinggga perusahaan mengalami kesulitan dalam memenuhi biaya operasionalnya (misal pembayaran gaji karyawan dan pemasok). Risiko keuangan merupakan risiko dimana arus kas penerbit obligasi tidak mencukupi untuk memenuhi kewajiban keuangannya (misal kewajiban pembayaran hutang dan bunga).
 

               Risiko Inflasi
Anggaplah seorang investor membeli instrumen hutang dengan maturitas satu tahun, nilai maturitasnya sebesar $1.000 dengan suku bunga 7%. Arus kas obligasi ini satu tahun dari sekarang adalah $1.070 . Dimisalkan lebih lanjut tingkat inflasi selama satu tahun tersebut adalah 5%. Maka kemampuan membeli arus kas satu satu tahun dari sekarang adalah $1.070 dibagi 1 ditambah tingkat inflasi. Dalam contoh diatas menjadi $1.070 / (1,05) sama dengan $1.019. Oleh karena itu, dalam nominal dolar (yaitu, dolar tidak disesuaikan dengan inflasi), realisasi pengembalian adalah 7% namun dalam dolar sesungguhnya (setelah disesuaikan dengan inflasi), pengembaliannya adalah sebesar 1,9%.

Risiko inflasi atau risiko kemampuan beli adalah risiko dimana perubahan dalam pengembalian yang sesungguhnya setelah disesuaikan dengan tingkat inflasi adalah negatif. Dalam contoh diatas, hal ini akan terjadi jika tingkat inflasi lebih besar dari 7%.

Risiko Nilai Tukar
Investor AS yang membeli sekuritas dengan menggunakan mata uang asing tidak mengetahui berapa besar arus kas yang terjadi dalam USD. Arus kas dalam USD tergantung dari nilai tukar pada saat pembayaran diterima. Anggaplah, seorang investor membeli obligasi yang pembayarnnya menggunakan mata uang yen. Jika yen mengalami depresiasi relatif terhadap USD, maka USD yang diterima akan lebih sedikit. Risiko perubahan nilai investasi disebabkan nilai tukar mata uang asing disebut dengan risiko nilai tukar atau risiko mata uang. Jika yen mengalami apresiasi relatif terhadap USD, maka investor akan mengalami keuntungan dan menerima USD dalam jumlah yang lebih banyak.

Risiko Reinvestasi 

Risiko investasi adalah risiko dimana hasil yang diterima dimasa depan harus diinvestasikan kembali dalam suku bunga yang lebih rendah. Sebagai contoh, sebuah institusi keuangan mengharapkan akan menerima $10 miliar pada saat maturitas obligasi empat bulan dari sekarang. Institusi keuangan tersebut berniat untuk menginsvestasikan kembali $10 miliar yang dimilikinya kedalam obligasi lain. Risiko yang dihadapi oleh instisusi keuangan ini adalah adanya penurunan suku bunga empat bulan mendatang.

Perlu diperhatikan bahwa bagi portofolio obligasi, risiko harga dan risiko reinsvestasi merupakan dua risiko yang berlawanan. Sebagai misal, risiko harga adalah risiko dimana suku bunga akan meningkat, sehingga mengurangi nilai portofolio obligasi. Sebalik\nya, risiko reinsvestasi adalah risiko dimana suku bunga akan menurun yang menyebabkan arus kas yang diterima harus diinvestasikan kembali pada suku bunga yang lebih rendah.

Risiko Ditarik Kembali
Kebanyakan obligasi memiliki ketentuan yang memungkinkan penerbit obligasi untuk menarik kembali seluruh atau sebagian obligasi sebelum tanggal jatuh temponya. Penerbit obligasi biasanya menahan hak ini agar dapat memiliki fleksibilitas untuk mendanai kembali obligasinya dimasa depan jika suku bunga pasar menurun dibawah suku bunga kupon.

Dari sudut pandang investor, ada dua kerugian dari penarikan kembali ini. Pertama, pembayaran yang akan diberikan kepada pemegang obligasi tidak diketahui dengan pasti jumlahnya. Kedua, karena penerbit akan menarik kembali obligasinya jika suku bunga menurun, maka investor akan menghadapi risiko investasi kembali, yaitu investor harus menginsvestasikan hasil yang diperoleh pada saat obligasi ditarik kembali pada tingkat suku bunga yang lebih rendah.

Risiko Likuiditas
Menurut Professor James Tobin, likuiditas atau ketidaklikuiditasan dapat dilihat dari seberapa besar penjual tersedia menerima kerugian jika mereka ingin menjual aktiva dengan segera dibandingkan dengan biaya dan waktu yang harus dikeluarkan.

Contoh aktiva yang kurang likuid adalah rumah yang besar dengan bentuk yang tidak lazim atau karya seni seorang artis yang tidak dikenal. Untuk dapat menjual aktiva tersebut, pemilik aktiva harus mencari seorang pembeli diantara sedikit calon pembeli yang sesuai. Supaya calon pembeli tersebut mau membeli aktiva yang dijual, maka penjual harus memberikan potongan harga.

Risiko likuiditas imbul dari adanya kesulitan untuk menjual aktiva atau dapat dianggap sebagai perbedaan antara ‘nilai sesungguhnya’ suatu aktiva dengan harga yang disetujui dikurangi komisi.



Sumber:

Manajemen Investasi/Frank J. Fabozzi

Jakarta: Salemba Empat, 1999

Xvii, 214 hlm.; 21 x 26 cm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar